Motivasi

Pencapaian terbesar pada mulanya dan selama beberapa waktu adalah sebuah mimpi. Pohon ek tidur di dalam bijinya; burung menunggu dalam telurnya; dan dalam bayangan jiwa tertinggi, malaikat yang terjagapun bergerak. Impian adalah persemaian kenyataan.

Seperti ini Gosip?
Sunday, 25 July 2010 02:19

Tapi demi menjaga kekeluargaan dan rasa gak enak karena bagaimanapun Tante Jimron masih saudara juga, maka ibu tetap berusaha untuk datang. Sebagai alternatif (baca:korban) saya lah yang diajaknya. Katanya, daripada bengong sendirian.
Dan benarlah keadaannya emang begitu…
Sesampai di rumah Tante Jimron, sudah dipenuhi oleh undangan yang mayoritas ibu-ibu teman dari Tante Jimron and the Gank.
Macem-macem penampakannya, ada yang kaya toko emas berjalan dengan kalung, anting segede biji salak dan aksesori lengkap lainnya dari bahan berwarna kuning itu, untung aja giginya ngga berwarna kuning....

Ada juga yang pake baju macam artis dangdut, penuh rumbai rumbai menjulur ke sana kemari. Bahkan banyak ibu-ibu yang berdandan layaknya mau ke ajang grammy award aja, dengan busana malem yang seksi abis (padahal acaranya sore!!) sampe ada juga ibu-ibu yang datang lengkap dengan membawa barang dagangan kaya mau ke pasar.
Pokoknya rame dan seru abis…
Sampai akhirnya pada session gossip menggosip.
“Bu Anom, gimana kabar Putranya yang di Surabaya itu?” Tanya Tante Jimron membuka ajang pergossipan.
“ Owh, anak saya si Putra? Sebentar lagi dah mau jadi dokter, maklum lah bu. Dia kan orangnya tekun dan pinter.” Kata Bu Anom sambil membetulkan letak sanggulnya, “ Sejak SD juara terus sih!!”
Ibu yang bergaun merah gak mau kalah,” Sama dong Jeng, anak saya si Dona, kemaren waktu kenaikan kelas juga juara kelas. Moga-moga nanti bisa jadi dokter kaya Putranya Jeng Anom !”
“Kalo si Linda cuma ranking dua sih jeng, cuma saya sedikit kewalahan dengan tawaran yang datang buat ngajakin dia pentas menari. Habis dia kan juara menari Legong Kraton bulan lalu…” Kata Ibu yang bergaun garis-garis ijo.
Saya diem saja melihat ekspresi wajah ibu saya yang datar-datar saja.
Dalam hati, saya kasihan juga melihat ibu. Apa yang bisa Ibu banggakan dari saya???? Cantik engga, pinter biasa aja, prestasi di sekolah gak ada. Kerjanya tiap hari cuman berantem mlulu sama adik.
“ Si Agung, kemaren juga ranking 1 lho Jeng. Saya sendiri ngga nyangka lho!!! Padahal dia jarang banget belajar” Ibu yang berbaju pink mencoba merendah tapi meninggikan mutu.
Akhirnya Tante Jimron menegur Ibu saya yang sedari tadi diam mendengarkan saja, “ Bu Ayu kok dari tadi diem aja sih? Ayu sendiri bagaimana?”
“ Owh, Ayu itu seorang Blogger bu…” Kata Ibu saya spontan.
Haaaahhh. Blogger??? Kenapa tiba-tiba ibu bawa-bawa nama Blogger???
“ Blogger itu apa sih?” hampir kompakan ibu-ibu yang hadir pada bertanya.
“Blogger itu ya menulis di semacam web pribadi begitu…tulisannya banyak dibaca orang secara online” Kata Ibu saya sok menjelaskan.
“ Ngga ngerti saya Bu! Emang apa istimewanya jadi Blogger?”
“ Ya istimewa Jeng, dari situ si Ayu juga bisa dapet duit, uang saku, buat beli pulsa bahkan SPP jarang minta..bla…bla..bla..bla..bla..”
Ibu menjelaskan dengan sok tahu dan panjang lebar tentang dunia Blogger (menurut versinya sendiri serta agak dilebih-lebihkan) yang membuat ibu-ibu yang hadir pada bengong dan terkesima. Kayanya kagum banget dan merasa seolah-olah dunia Blogger itu adalah dunia antah berantah yang sangat sulit dijangkau oleh manusia biasa dan harus melalui tekhnologi yang amat canggih untuk memindainya.
Sampai akhirnya waktunya pulang dan keluar dari rumah Tante Jimron, Ibu masih tersenyum penuh kemenangan !!
Ketika di halaman tempat parkir sesaat sebelum pulang, saya bertanya ke Ibu, “ Kok Ibu bercerita tentang Blogger sih?”
“ Ya iyalah, kalo jadi dokter, insinyur, juara kelas itu udah biasa. Kalo jadi Blogger? Emang Ibu-ibu pada tahu?? Engga kan? Canggih gitu loh!” Kata Ibu saya cuek.
“ Emang Blogger bisa jadi kebanggaan?”
Ibu sejenak memandang saya, “ Apapun adanya Ayu dan Adek, baik ataupun buruk, kalian tetap anak-anak ibu yang ibu sayangi dan Ibu banggakan!!”
Aaahhh Ibu…….
Kalau saja aku mampu, betapa inginnya saat itu aku meletakkan seluruh dunia di bawah telapak kakimu. Agar semua bisa melihat bahwa disana memang benar-benar ada surga-Nya yang dititipkan kepadamu.

 

 

Nilai moral:

 

Share this post