Motivasi

Beranggapanlah bahwa diri anda kaya, kedengarannya gila, bukan? Namun ini tidak lebih gila jika di bandingkan dengan seorang calon pilot duduk di depan alat Simulasi Terbang dan berlatih mendaratkan sebuah pesawat boing 747

 

Paham sekuler, pluralis, dan liberalis
Wednesday, 20 April 2016 14:38

Cerita ini diambil dari beberapa sumber di Facebook dan beberapa sumber lainnya;

Kenapa orang berzina sebaik apapun tetap harus di hukum? Pernah hidup di lingkungan pelacur, di situ hampir semua orang baik-baik, menolong orang susah, membantu orang miskin, menjenguk orang sakit, bersedekah, suka membantu teman pinjamkan duit dan banyak lagi kebaikan lainnya. Namun pekerjaan utama nya adalah berzina, kalau ungkapan halusnya 'teman kencan yang baik', setiap hari siang, mulai pukul 12.00 siang hingga sore hari (karena malam dia bekerja hingga pagi dan tidur dari pagi subuh hingga siang hari) dia adalah sosok yang baik dengan tetangga, ramah dan enak di ajak bicara.

Pikiran Sekuler dan Liberal dimulai dari hal seperti ini, "membiarkan" hal yang tidak boleh oleh agama dengan alasan 'toh dosa dia yang tanggung', 'toh dia tidak menggangu kehidupan saya', 'itu bukan urusan saya', 'saya juga ngak kenal dengan orang tersebut' dan segudang alasan 'bagus' yang membuat kita 'membiarkan' hal yang seharusnya di larang yang ada dalam lingkungan kita.

 

Trus apakah kita benci orang baik? tentu tidak. Apakah kita dilarang punya teman orang penzina? tentu tidak. Namun ingatkan orang tersebut bahwa zina itu dilarang oleh agama (dan tentu dia juga sudah tahu). Mengingatkan orang lain tentang dosa adalah KEWAJIBAN, tentu dengan cara yang sopan dan elegan.

Liberal: Ki, ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, rajin sedekah sampai hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, terus meninggal dan dia bukan Muslim, Dia masuk surga atau neraka?

Kyai: Neraka.

Liberal: Lah? Kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka?

Kyai: Karena dia bukan Muslim.

Liberal: Tapi dia orang baik Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaik dia dimasukin neraka juga.

Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.

Liberal: Adil dari mane?

Kyai: Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa?

Liberal: Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?

Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?

Liberal: Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.

Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?

Liberal: Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah.

Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?

Liberal: Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.

Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?

Liberal: *terdiam*

Kyai: Gimana?

Liberal: Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.

Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan. (*)

Share this post